√75+ Mengenal Budaya Nyadran dan Dakwah di Dalamnya

√75+ Mengenal Budaya Nyadran dan Dakwah di Dalamnya

Mengenal Budaya Nyadran dan Dakwah di Dalamnya!
Mengenal Budaya Nyadran dan Dakwah di Dalamnya!

Sudah bukan merupakan hal asing lagi bagi masyarakat wilayah Jawa mengenal budaya nyadran. Meskipun begitu, tentu saja masih ada beberapa orang belum mengetahui secara jelas budaya telah lama ada ini. Untuk kegiatan nyadran sendiri dilakukan dengan serangkaian upacara sesuai adatnya. Masyarakat di khususnya pada daerah Jawa Tengah sudah tidak asing lagi dengan upacara dilakukan tersebut. Agar lebih mengenal budaya nyadran secara mendalam, maka bahasa digunakan sendiri berasal dari bahasa Sanskerta. Asalnya dari kata sraddha berarti sebuah keyakinan, dimiliki oleh masyarakat.

Pada wilayah pedesaan, aktivitas kebudayaan ini, dilakukan dengan melakukan gotong royong membersihkan makam. Umumnya, pada daerah pedesaan aktivitas membersihkan makam ini banyak dilakukan khususnya pada wilayah Jawa Tengah. Ketika diterjemahkan dalam bahasa Jawa sendiri, dalam mengenal budaya nyadran ada kata sadran. Kata tersebut, berarti ruwah syakban, yaitu waktu dilaksanakannya upacara sudah menjadi agenda tahunan ini. Rangkaian acara dilakukan pada salah satu jenis kebudayaan selalu dilestarikan pada wilayah Jawa Tengah ini. Mulai dengan melakukan pembersihan pada makam – makam leluhur terlebih dahulu. Selanjutnya, ada juga proses penaburan bunga, serta puncaknya adalah kenduri atau selamatan. Pada acara kenduri, juga dilakukan pada area makam leluhur, sehingga menjadi salah satu ciri khas dari upacara ini.

Mengenal Budaya Nyadran Dalam Menyambut Ramadhan

Ketika akan mulai datang bulan suci Ramadhan setiap tahunnya, tentu masyarakat menyambutnya dengan gembira. Untuk kegiatan budaya ini, juga dilakukan dengan tujuan menyambut bulan suci Ramadhan tersebut. Pada daerah tertentu, lebih mengenal upacara tersebut dengan nama Ru wahan. Karena diadakan pada saat bulan ruwah, sebelum Ramadhan tiba, dalam menyambut datangnya berkah saat berpuasa. Untuk aktivitas dilakukan pada saat sedang upacara memiliki beberapa kegiatan khusus. Nah, nantinya kegiatan tersebut akan dipandu oleh seorang Ustad agar aktivitas berjalan lancar sesuai keinginan.

RECOMMEND :  √75+ Manfaat Kesenian Wayang Kulit, Simak Baik-Baik

Dalam mengenal budaya nyadran dimulai dengan melakukan aktivitas kenduri. Pada acara tersebut, ada mulai dari pembacaan ayat – ayat Al-Quran, pembacaan zikir, tahlil serta doa oleh Ustad. Setelah itu, kenduri ditutup dan semua yang hadir melakukan makan bersama. Kemudian ada juga aktivitas besik berupa pembersihan setiap makam di tempat kuburan dari berbagai rumput maupun kotoran. Pembersihan makam leluhur tersebut, juga berfungsi sebagai salah satu bakti. Karena setelah itu, dalam mengenal budaya nyadran juga dilakukan pembacaan doa bagi leluhur telah tiada dari dunia tersebut. Hal ini, sama seperti ketika melakukan upacara dalam kegiatan ziarah kubur. Berdoa tersebut, biasanya dilakukan dengan membaca surah Yasin bagi orang sudah meninggal dunia agar tenang dalam kubur.

Waktu Biasanya Kegiatan Nyadran Dilakukan

Dalam mengenal budaya nyadran maka Anda juga harus mengetahui waktu pasti dari pelaksanaan. Biasanya upacara sendiri dilakukan setiap hari ke 10 pada bulan Rajab atau ketika kedatangan bulan Syaban. Meskipun sudah terdapat tanggal pasti tersebut, ada beberapa wilayah yang tidak menggunakan perhitungan tersebut. Ada juga pada wilayah tertentu yang mengadakan upacara bergantian setiap desa. Ketika sudah mengenal budaya nyadran ini, maka Anda akan lebih paham mengenai perhitungan dari pelaksanaan kegiatan secara jelas. Tentu saja, jika sudah masuk pada bulan syaban, akan banyak diadakan nyadran. Pada aktivitas ziarah ke makam, biasanya orang – orang akan membawa bunga ataupun alat kebersihan. Untuk bunga dibawa, biasanya berjenis telasih agar dapat ditaburkan pada wilayah kuburan sudah dibersihkan.

Dalam mempelajari lebih dalam agar mengenal budaya nyadran sendiri, maka bunga telasih juga memiliki makna tersendiri. Dengan menaburkan jenis bunga ini, maka melambangkan jika sudah terdapat hubungan erat. Hubungan erat tersebut terjadi antara peziarah dengan arwah diziarahi di kubur. Masyarakat yang mengikuti rangkaian acara ini, biasanya berdoa bagi keluarga atau leluhur telah meninggal dunia. Ketika sudah melantunkan doa – doa dengan dipimpin oleh Ustad hadir dalam kegiatan. Acara dilanjutkan dengan masyarakat menggelar kenduri bersama dengan makan – makan di sepanjang jalan. Biasanya, ketika makan ini, akan digelar tikar sepanjang jalan, yang kemudian diberi daun pisang. Makanan di sini, biasanya dibawa oleh setiap keluarga mengikuti acara agar dapat dikonsumsi bersama. Ketika lebih mengenal budaya nyadran maka, Anda juga akan dikenalkan berbagai macam jenis makanan dibawa. Dalam acara tersebut, karena merupakan sebuah kegiatan besar, maka ada berbagai sajian disiapkan.

RECOMMEND :  √ Serat Rami: Pengertian, Asal, Ciri, Manfaat & Kelebihan

Acara Nyadran Menjadi Pengabungan Ajaran Hindu-Buddha Dengan Islam

Pada kata Nyadran sendiri sebenarnya berasal dari tradisi telah dilakukan umat Hindu-Buddha. Selanjutnya, pada kisaran abad ke 15 oleh Walisongo, melakukan pengabungan terhadap tradisi ini dengan ajaran Islam. Maka dari itu, setelah mengenal budaya nyadran lebih mendalam, maka masyarakat bisa menerima ajaran lebih mudah. Bentuk dari toleransi terhadap budaya, menjadi salah satu daya tarik Islam masyarakat agar memeluk ajaran.

Pada awalnya, dari Walisongo sendiri mencoba meluruskan ajaran masyarakat yang memuja roh. Seperti sudah diketahui dengan baik, pemujaan selain kepada Allah SWT sendiri merupakan hal musyrik serta tidak boleh dilakukan. Maka dari itu, dilakukan pengabungan tradisi agar tidak berbenturan terhadap budaya Jawa. Dari walisongo sendiri, memberikan sebuah pemikiran serta penyebaran agama dengan menggunakan tolerasi serta tanpa kekerasan dengan cara ini.

Oleh karena itu, masyarakat sekarang lebih mengenal budaya nyadran dengan aktivitas membaca Al-Quran. Selain itu, ada juga ditambah dengan pembacaan tahlil serta doa oleh Ustad hadir dalam upacara. Dalam rangkaian kegiatan adat ini, juga dipahami sebagai bentuk hubungan erat bersama leluhur. Sebagai sesama manusia, juga mempercayai akan adanya Allah SWT sebagai Tuhan YME. Setelah masuknya Walisongo dan pengabungan kebudayaan Jawa terhadap ajaran Islam. Maka hingga saat ini masih ada banyak wilayah khususnya pada daerah pedesaan melestarikan budaya ini hingga sekarang.

Suasana Keakraban Ketika Upacara Budaya Berlangsung

Sudah tidak perlu diragukan, dalam mengenal budaya nyadran kegiatan juga memberikan rasa nyaman. Karena dapat berkumpul bersama masyarakat lainnya, rasa persaudaraan juga kearaban terjalin semakin erat. Terus melestarikan budaya dengan melakukan upacara tersebut juga memberikan banyak hal menarik. Salah satunya sajian makanan dibawa pada saat sedang melaksanakan adat budaya ini sendiri. Beragam jenis makanan disajikan menjadi satu pada susunan daun pisang memanjang. Biasanya, ada lauk mulai dari ingkung ayam, perkedel, sambal goreng ati, tempe, tahu, sayuran dan masih banyak lainnya. Sajian dibawa oleh semua keluarga tersebut, juga sebagai bentuk rasa syukur. Dalam menyambut semarak memeriahkan bulan suci Ramadhan acara bersih – bersih dilakukan oleh hampir semua orang.

RECOMMEND :  √ 9+ Jenis Jenis Resleting (Zipper) Beserta Kegunaan dan Gambarnya

Menyambut bahagia bulan penuh rahmat tersebut, akan membuat Anda juga mengenal budaya nyadran. Karena seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, acara biasanya dilakukan menjelang Ramadhan akan datang. Rangkaian kegiatan dipandu dengan tokoh agama serta tokoh masyarakat berlangsung harmonis. Mendukung rasa ketentraman juga kenyamanan setiap warga ketika memiliki hubungan baik sangat penting dilakukan. Di tengah kesibukan aktivitas sehari – hari, dengan melakukan berbagai macam aktivitas. Ketika mengikuti upacara sendiri menjadi sebuah hal menyenangkan ketika dapat ikut mengunjungi leluhur bersama banyak orang. Keseruan akan tradisi budaya sudah dilakukan secara turun menurun tersebut. Hingga saat ini, masih menjadi sebuah aktivitas banyak dilakukan dengan banyak orang lebih mengenal budaya nyadran sendiri.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *