√ Impor: Haruskah Kita Melakukannya?

Dibalik fenomena impor Indonesia – Sebagai prolog, artikel ini adalah rangkuman materi bisnis pesantren Sintesa Angkatan X yang disampaikan oleh praktisi impor, Adhie Kurnia S.T berdasar arahan presiden Sintesa, Ustadz Ibrahim Vatih.

Judul materi asli adalah: Import Antimainstream.

Materi disampaikan secara online lewat Streamyard yang kemudian dishare di Facebook pada tanggal 25 Agustus 2020.

Materi impor diberikan secara bertahap dan di setiap tahap setiap santri diwajibkan untuk mencatat dan praktik secara langsung. Berkaitan dengan itu, dan artikel ini adalah rangkuman penulis sebagai media belajar.

Berikut ini ulasan materi secara lengkap.

Prolog oleh Ibrahim Vatih

Perekonomian dalam sebuah negeri dapat berjalan salah satunya karena adanya arus pertukaran barang. Itulah mengapa kali ini kita akan belajar juga tentang bisnis impor dan mungkin di masa yang akan datang bisnis ekspor juga.

Harapannya, dalam beberapa tahun kedepan kita juga bisa bawa produk ke luar, jadi pemain bisnis ekspor.

Kita akan lihat bagaimana bisnis luar berjalan, dan kita tangkap peluang tersebut.

Nah, mungkin kalau ada yang pernah dengar. Ada beberapa orang yang berkomentar sinis nih, impor buat negara lain kaya, padahal Impor bisa cover produk yang belum tercover atau belum tersedia di dalam negeri.

Kan banyak produk yang Indonesia belum bisa cover itu? Dan kalaupun di Indo sudah ada itu barang, secara logika ekonomi juga lebih baik beli di Indo saja-kan?

Nah, yang bisa pelajari adalah, peluang yang masih ada di Indo belum ada di negara lain ada.

Nah, Siapa Pemateri Impor Kali Ini?

Pemateri spesial dari Depok Jabar, Mas Adhie yang sudah bergelut di dunia impor sejak lama.

Jadi, cara cari market, shipping, urusan bea cukai, perizinan, pricing dan macam macamnya, sudah Insyaallah pro-lah. ^^

Materi ini jadi sangat berharga karena seperti Ustadz Vatih bilang:

Guru terbaik adalah pengalaman, pengalaman terbaik adalah pengalaman orang lain.

Nah Mas Adi ini sudah mulai berbisnis mulai tahun 2011. Bisnis pertama adalah konveksi berlokasi di dekat kampus, jadi belum merasakan dunia kerja.

Konveksi yang dikerjakan adalah baju semi jadi, baju sablon.

Bisnis ini lalu berkembang di tahun 2012, beliau membuat CV dan target pasar diubah dari yang sebelumnya umum seperti ke mahasiswa untuk kaos acara menjadi ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan legalitas. Itulah salah satu alasan juga mengapa beliau membuat CV.

Biasanya selain membutuhkan seragam, perusahaan juga butuh goodie bag dan buku, atau seminar kit lainnya.

Tahun 2013 beliau ketemu teman yang sudah bermain import, namun beliau saat itu berpikir bahwa “impor mematikan produksi dalam negeri”. Itulah mengapa saat itu, pengin terjun langsung namun diurungkan.

Lalu seiring berjalan waktu, beliau menemukan ternyata barang yang beliau beli untuk CV seperti bahan souvenir adalah impor semua. Bahan baku juga impor, gantungan tali juga impor, harusnya kalau misal bikin kita kan bisa.

Namun ternyata, ketika saya cari pangkal produsennya, distributornya, ternyata tidak ada. Itulah sulitnya kalau di Indonesia.

Sebaliknya, coba nanti lihat di luar sana, mereka memiliki satu komunitas e commerce, yang dengan itu, sangat mudah mereka bisa temukan pabrik, distributor dan reseller. Sudah ada data semua.

Bukalapak memang ada tapi baru booming tahun 2015 ketika sudah jadi unicorn. Sebelumnya wah sulit. Mereka dulu masih gunakan BBM atau Twitter, Friendster.

Artinya ketika negara lain sudah buat komunitas nya kita sudah ketinggalan, sulit. Di situlah mengapa banyak barang yang belum tercover.

Lebih jauh, kita butuh sedikit, namun tidak ada. Makanya kenapa saya berpikir ulang, kog bisa kayak gitu? akhirnya saya menelisik dan menekuni bisnis impor ini.

Nah, hal yang menarik adalah, sebenarnya kita bisa impor satuan.

Seperti fenomena FB ads di tahun 2017-2018. Sebenarnya mereka sudah logis. Mereka udah nemu komunitasnya dengan mudah lalu mereka jual itu produk. Jadi ngga ada sesuatu yang namanya datengin, legalitas dan itu tanpa kontrak.

Bisa impor hanya dengan e commerce biasa. Itulah yang terjadi.

Di sinilah akhirnya kita akan bahas, apa yang bisa kita mulai.

Sebagai tahap memulai, mengetahui seluk beluk adalah hal yang wajib. Setelah itu baru kita lakukan scale up.

Berkaitan dengan itu, ada beberapa bagian materi disini. Dan artikel ini adalah materi pengenalan, seluk beluk, reason semua hal-hal yang berkaitan dengan mindset. Sedangkan untuk produk, pricing, shipping dst kita belum. Mari pahami dulu mindset impornya terlebih dahulu.

Apa Itu Impor?

Apa itu impor? apa itu international transaction?

Intinya secara singkat, international transaction adalah beli dari luar negeri dimasukkan ke dalam negeri atau sebaliknya.

Alasan Mengapa Orang Tidak Impor

Asian business woman give you rejected sign, closeup portrait on white background.

Ada beberapa hal yang menjadi kendala mengapa orang tidak mau memulai impor. Kendala ini dapat berupa masalah mindset dan juga masalah teknis.

Pertama: Tidak Bisa Berbahasa Inggris

Jangan takut ngga bisa bahasa Inggris. Temen temen pergi ke Prancis ke Jerman atau Italy, mereka juga tidak bisa bahasa Inggris.

Bahasa itu intinya mereka mengerti, kita mengerti, sudah selesai.

Apa apa translate aja. Bahkan jika kalian chatting. Mereka sudah ada fitur translate otomatis.

Jadi, bahasa bukan kendala untuk impor.

Kedua: Ribet

Kendala kedua untuk impor adalah ribet.

Mereka berpikir mereka harus kirim dokumen yang tebal dan banyak. Padahal no! kita bisa dengan mudah langsung impor tanpa mengurus dokumen.

Kita hanya siapkan apa yang kita butuhkan. Fokus aja jualan.

Tinggal kita cari produsen kita dimana, bagaimana cara kita kirim barangnya dengan partner. Jadi ngga perlu kita produksi atau lakukan semua proses itu dari hulu ke hilir. Bahkan jika kita tidak ada izin untuk beli barang tersebut, cari perusahaan pakai izinnya.

Disini kita punya aturan, negara lain punya aturan maka tugas kita hanya mempertemukan aturan tersebut dan selesaikan.

Karena tidak semua barang bisa kita impor secara umum, ada produk yang terkena larangan melintas yang tidak bisa kita impor. Namun tetap bisa dengan beberapa dokumen. Seperti itu hal yang harus kita penuhi.

Untuk dokumen, pengujian, dst maka cari dan selidiki berapa habisnya untuk melakukan semua itu. Termasuk penanganan setelah turun dari kapal maupun pesawat.

Intinya, semua jadi sulit kalau kita yang lakukan semuanya sendiri.

Sudah ada bisnis yang ngurus surat-surat, ada yang khusus bongkar, ada yang angkut, ada yang macam-macam, minta bantuan kesana.

Jadi pahami perusahaan kita bagian apa, lainnya lempar ke pelaku bisnis yang lain.

Artinya mindset yang kita bangun adalah bisnis. Jadi tidak lokal, kirim barang di rumah, baru disebar, bukan seperti itu. Kita cukup pikirkan, jualan dimana, gimana cara jualannya, gimana belinya, gimana ngirimnya. Sesederhana itu bisnis.

Ketiga: Mahal

Kendala yang ketiga, orang berpikir impor itu mahal, ini juga salah.

Mengapa? karena dengan adanya efek globalisasi, pengiriman barang saat ini sangat cepat, mudah dan murah.

Lebih lanjut, barang yang kita beli itu bisa mendapat ongkir yang murah atau bahkan yang free ongkir.

Jadi anggapan bahwa impor mahal adalah salah, sulit juga salah.

Stereotip Negatif Orang Indonesia Tentang Impor

Kita secara umum kita tahu orang Indonesia memiliki presepsi negatif terhadap kegiatan impor. Berikut ulasan dan bantahan.

Impor Mematikan Market di Dalam Negeri

Biasanya sebagai dasar, orang Indonesia mengambil kutipan berita:

“Impor beras, di Saat Panen!”

Jadi, mematikan petani yang panen. Itu benar.

Tapi impor ngga cuma beras. Ada barang-barang impor yang memang dibutuhkan. Berapa yang dibutuhkan berapa yang diproduksi, berapa kurangnya. Disini kita main angka, dan mau ngga mau kita harus impor kurangnya.

Baru, kalau barang yang di Indonesia sudah melimpah tapi kita impor, ini yang keliru.

Maka, jadilah importir yang bermartabat. Jangan impor barang yang di Indonesia sudah melimpah ruah. Itu namanya konyol.

Impor Menurunkan Harga

Impor digenerelisasi menurunkan harga.

Memang, jika diperhatikan, harga untuk produksi di luar negeri sangat murah, harus diakui berlawanan dengan di dalam negeri kita. Ongkos produksi di Indonesia mahal.

Sebagai contoh, untuk sebuah kaos, HPP di Indonesia paling tidak 30 ribu, sedangkan di luar HPP cuma 10 ribu.

Jadi coba bayangkan, kaos datang dari China dengan harga murah, ditambah dengan cost shipping sedikit. Nah, hancur sudah harga di Indonesia.

Namun, ingat kita punya pemerintah yang mengatur hal tersebut.

Pemerintah sudah buat banyak kebijakan untuk melindungi market Indonesia. Ilmu kita belum sampai untuk melihat masalah seperti itu. Jadi kita tinggal ikuti saja dengan prasangka baik. Di pemerintahan juga banyak orang baik 🙂

Import Mematikan Karyawan

Masalah karyawan di Indonesia memang seperti tiada berujung. Hal ini karena perilaku karyawan di Indonesia memang sedikit miris. Itu ada meskipun tidak semuanya.

Itulah mengapa perusahaan mulai berpikir untuk menggunakan mesin, ya untuk menghindari konflik.

Intinya, hal hal seperti ini salah satunya yang membuat kita berpikir untuk impor, mengapa?Karena impor itu mudah, pasarnya banyak, kompetitif, barang bagus, sedangkan produksi itu sulit.

Selain itu ingat, pasar di Indonesia sangat besar, sangat besar. Jadi misal ada 10.000 sandal, dengan kedipan mata, sebenarnya beres.

Jadi, jangan berpikir barang yang kita produksi jelek, bukan, mungkin barang tidak berada di pasar yang tepat. Semua ada pembelinya.

Impor Membuat APBN Defisit

Kita tidak membuat impact sebesar itu, benar benar tidak ada 0,01% kapital market kita.

Itu omongan sudah terlalu politis. Kita bisa berbicara seperti itu, jika kapital market kita di sektor migas nikel dengan pendapatan puluhan triliun. So, presepsi seperti itu, bisa kita bantah.

Lebih lanjut, faktanya yang menjadi penyebab defisit APBN adalah daya beli rendah, lemahnya nilai mata uang, pembiayaan pembangunan yang tinggi dan menghasilkan hutang dan bukan karena impor.

Ini tentu akhirnya menjadi anggapan yang salah juga.

Impor Mematikan Pasar di Indonesia

Ini tidak akan terjadi, jika impor barang tepat, bukan barang yang merusak.

Selain itu, kebijakan pemerintah tentang ekspor dan impor sampai hari ini terus berkembang. Jika ada hal yang mengganggu kita tinggal lapor kepada badan bea cukai.

Bahkan jika yang kita impor adalah barang yang dibutuhkan, itu berarti kita sudah membantu orang. Dan jangan lupa kita juga telah membantu pemerintah dengan membayar pajak impor.

Impor Membuat Defisit Stok Produk

Hal yang sama mengatakan kebalikannya. Kita menutup defisit produk di Indonesia.

Jadi, yang perlu kita selalu ingat bahwa, tidak semua kebutuhan penduduk suatu negeri tersedia di negeri tersebut. Ini seperti cerita insinyur Masjid Nabawi yang harus impor keramik dari Yunani.

Kita juga punya KPPI, kalau ada barang tertentu yang menyalahi, maka lapor ke sini, nanti bisa dikasih bea cukai masuk yang mahal supaya dapat bersaing. Atau jumlahnya dibatasi.

So, dari semua paparan yang telah dijelaskan, kesimpulannya adalah IMPOR ITU DIPERLUKAN.

Tidak berhenti sampai disini, berikut alasan mengapa kita memang harus impor jika diperlukan.

Alasan Mengapa Kita Harus Impor

Pertama: Membantu Bagaimana Suatu Produk Harus Berkembang

Impor dan ekspor berkembang dan membuat barang berkembang. Produsen jadi tahu apa yang dibutuhkan, apa yang harus ditambah, apa yang dikurangi, apa yang diperbaiki.

Kedua: Menambah Profit

Seperti telah dibahas di awal, jika barang dari luar itu murah dengan cost shipping yang murah pula, maka tentu kita dapat keuntungan yang lebih besar.

Ketiga: Memperluas Skala Produksi Kita

Poin ini dapat terjadi jika kita membuka pabrik diluar negeri dengan cost produksi yang murah lalu kita impor meskipun itu pabrik milik kita juga.

Keempat: Meluaskan Pasar Kita

Meskipun sebenarnya pasar Indonesia sudah sangat besar, namun jika ingin mengapa tidak merambah pasar luar negeri, toh tidak dilarang.

Kelima: Membuat Produk Kompetitif

Keenam: Persahabatan Antar Negara

Ketujuh: Menutup Kekurangan Dalam Negeri

Kedelapan: Mentransfer Teknologi Baru

Kesembilan: Banyak Variasi Unik dan Lucu

Terakhir: Menghindari Monopoli Barang

Garis Besar Proses Impor Mudah dan Simpel

Langsung saja, kita akan ambil barang dari Taobao atau 1688. Ada banyak alasan mengapa kita ambil dari e commerce tersebut.

Point pentingnya adalah: Jangan pernah lepas dari kalkulator, karena kita sedang main angka.

Angka apa yang kita mainkan?

  • Harga barang
  • Cost Shipping ke gudang dihitung
  • Dokumen charge gudang
  • International shipping
  • Charge gudang
  • Pajak

Lalu dimana kita akan jual? Kita akan mulai jual di Tokopedia, marketplace terbesar di Indonesia, agar lebih mudah karena trafik dan SEO tersedia.

Lampiran: study kasus.

Demikian prolog materi Import Antimainstream. Materi selanjutnya akan ditambah dalam artikel yang berbeda. #saya capek ngetik ya Alloh…T-T

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: