Categories
Serba serbi

√49+ 5 Ritual Memanggil Hujan Unik di Berbagai Wilayah Indonesia

5 Ritual Memanggil Hujan Unik di Berbagai Wilayah Indonesia

5 Ritual Memanggil Hujan Unik di Berbagai Wilayah Indonesia
5 Ritual Memanggil Hujan Unik di Berbagai Wilayah Indonesia

Terdiri dari berbagai suku dan budaya, ada banyak sekali ritual memanggil hujan unik di Indonesia. Bentuk pemanggilan hujan ini sendiri sangat beragam dari mulai tari-tarian, selametan, doa, hingga memberikan sesembahan. Bahkan ada juga yang menyiksa diri untuk membuat hujan turun.

Hal ini tentu menjadi kekayaan budaya yang patut untuk dilestarikan karena memperlihatkan keragaman analisis dari para leluhur kita di masa lalu. Bagaimanapun juga, air menjadi salah satu kebutuhan utama bagi manusia. Meskipun jika berlebihan, air bisa mendatangkan banjir dan musibah lainnya.

Hujan dan air adalah sarana untuk menjaga kehidupan tetap berlangsung. Karenanya ketika air tidak ada, manusia akan berusaha untuk mencarinya. Ternyata manusia dimasa lalu memiliki cara unik untuk mendatangkan hujan.

Ritual Memanggil Hujan Unik di Indonesia 

Setelah kami rangkum dari berbagai sumber, ternyata ada 5 ritual unik yang dilakukan oleh berbagai suku di Indonesia ketika mereka hendak memanggil hujan. Ritual ini biasanya dilakukan ketika hujan tidak turun dalam kurun waktu tertentu.

Tentu saja pemangku adat menjadi pemimpin utama dalam prosesi pelaksanaan ritual pemanggilan ujian tersebut. Namun ritual ini juga diikuti oleh masyarakat sekitar sebagai bentuk dukungan atas pelaksanaan proses panggilan terhadap hujan tersebut.

Pada dasarnya, ritual-ritual ini adalah bentuk hanya saja cara berbagai suku untuk merepresentasikan doa kepada sang pencipta agar menurunkan hujan dengan segera. Namun cara pemanggilan tersebut memang berbeda antara satu suku dengan suku lainnya. Mari kita bahas satu persatu.

  1. Tradisi cambuk badan Purbalingga 

Ritual memanggil hujan yang pertama datang dari Kota Purbalingga. Ritual satu ini disebut oleh warga sekitar dengan nama tradisi cambuk badan Tiban. Terakhir kali, upacara satu ini dilakukan oleh warga desa Trajak, Boyolali, Tulungagung.

Umumnya tradisi ini dilakukan ketika kemarau panjang sedang melanda. Mereka yang melakukannya adalah pria dewasa. Saling berhadapan, kedua pria dewasa tersebut akan saling mencambuk tubuh satu sama lain sambil bertelanjang dada di tengah lapangan luas.

Tentu saja acara ini dipantau langsung oleh para penghulu adat dan para sepuh kampung di wilayah masing-masing. Mereka yang bertanggung jawab penuh terhadap acara tersebut. Masyarakat setempat meyakini kalau darah yang keluar akibat cambukan tersebut bisa mendatangkan hujan dalam waktu dekat.

Walaupun terlihat sangat mengerikan, warga setempat benar-benar tidak kaget dengan ritual satu ini. Tidak hanya di Tulungagung saja, ritual tersebut juga dilakukan di kota Trenggalek. Namun namanya berbeda. Di kota Trenggalek sendiri, tradisi cambuk tersebut dinamai dengan Upacara Campuk Badan Ojung.

  1. Tradisi Unjungan

Jika orang Trenggalek memiliki tradisi cambuk Ojung, maka mereka yang berasal dari Banjarnegara dan Trenggalek memiliki tradisi atau ritual memanggil hujan lain yang jauh lebih sadis. Ritual tersebut bernama ritual Unjungan.

Di dalam tradisi tersebut, para pria dewasa akan saling memukul dengan menggunakan sebilah rotan. Sedangkan dalam ritual Tiban, yang digunakan untuk saling mencambuk adalah sebuah ranting pohon aren. Tentu saja dengan penggunaan rotan, daya rusaknya jauh lebih besar.

Uniknya, ritual memanggil hujan satu ini dilakukan dengan hitungan ganjil. Jadi para peserta upacara akan saling melakukan pukulan dalam hitungan ganjil. Jika dalam 3 kali pukulan hujan tidak lekas turun, Maka pukulan tersebut akan dilanjutkan ke angka ganjil

Angka ganjil versi tradisi dimulai dari angka 3, selanjutnya naik ke 5 kali pukulan, 7 kali pukulan, 11 kali pukulan dan seterusnya. Tradisi unjungan ini selalu menjadi pusat keramaian warga ketika sedang dilangsungkan.

Selain menghadirkan upacara yang sadis, di dalam tradisi unjungan juga terdapat tari-tarian yang sangat indah. Sama seperti ritual sebelumnya, ritual memanggil hujan satu ini juga dipantau langsung oleh para pemangku adat di wilayah masing-masing. Mereka yang bertanggung jawab penuh terhadap kelancarannya.

  1. Tradisi Cowongan di Banyumas 

Selain dua tradisi atau ritual memanggil hujan yang sudah kami jelaskan di atas, ada juga tradisi lain di daerah Banyumas yang tidak kalah mengerikan. Tradisi tersebut bernama tradisi cowongan. Di dalam bahasa Jawa, cowongan sendiri memiliki arti belepotan pada wajah.

Media ritual satu ini adalah sebuah boneka yang dipercaya dirasuki oleh bidadari. Bidadari tersebut memiliki kemampuan untuk memanggil hujan. Meskipun ritual ini hanya boleh dilakukan oleh para wanita, ternyata boneka cowongan yang dirasuki oleh bidadari ini hanya boleh dipegang oleh kaum pria saja. Umumnya tradisi cowongan kan ini dilakukan setiap bulan Desember. Dalam kalender Jawa sendiri, momentum acara  tersebut jatuh pada akhir masa kapat. Namun ritual tersebut juga sering dilakukan ketika hujan tidak turun dalam jangka waktu lama.

Pelaksanaan ritual memanggil hujan satu ini dilakukan oleh 10 wanita yang seumuran dan dipantau langsung oleh para pemangku adat di wilayah masing-masing. Seringkali pada saat acara dilakukan ada peserta yang mengalami kesurupan karena daya mistis dari ritual tersebut memang sangat luar biasa.

  1. Ritual Gebug Ende dari Bali

Tidak hanya di Pulau Jawa saja, Pulau Bali juga memiliki ritual memanggil hujan yang cukup unik bernama tradisi Gebug Ende. Tradisi ini merupakan sebuah ritual turun-temurun yang dilakukan sejak zaman kerajaan Karangasem dan kerajaan Selaparang di wilayah pulau Lombok.

Ketika Ritual memanggil hujan ini dilakukan, masyarakat setempat sering menonton. Karena Bali sendiri merupakan pulau wisata yang sering dikunjungi oleh turis mancanegara, ritual tersebut juga menjadi tontonan yang sangat unik bagi mereka.

Di dalam tradisi satu ini, dua kelompok pria dewasa akan saling memukul menggunakan rotan dan menggunakan tameng sebagai pelindung badan. Namun dalam tradisi satu ini terdapat seorang wasit yang disebut dengan gelar Saye.

Di wilayah Karangasem sendiri, masyarakat meyakini kalau darah yang bercucuran akibat tradisi gebug Ende akan menjadi syarat turunnya hujan dalam waktu dekat. Karenanya semakin banyak darah yang bercucuran, akan semakin besar juga hujan yang diturunkan oleh sang Maha Pencipta.

  1. Ritual Ojung

Jenis ritual memanggil hujan selanjutnya adalah ritual ojung. Ritual satu ini biasanya diawali dengan tarian Indah bernama Ronteg Singo Wulung dan Tarian Topeng Kuna. Setelah prosesi awal tersebut selesai dilakukan, pada momen selanjutnya pria dewasa yang berusia 17 hingga 50 tahun melakukan atraksi saling cambuk satu sama lain.

Ritual memanggil hujan satu ini memang terdengar sangat mengerikan. Ada banyak darah yang bercucuran di dalam ritual tersebut. Namun tetap saja ritual ini memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar. Jadi para peserta tidak boleh mencambuk bagian wajah dan kepala.

Selain dijadikan sebagai sarana untuk memanggil hujan, ternyata ritual ojung juga dijadikan sarana untuk mendatangkan keberkahan dan keselamatan. Hingga saat ini, ritual tersebut masih sering dilakukan di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.

Kita semua setuju Kalau Indonesia memiliki segudang kebudayaan yang berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya. Termasuk salah satunya adalah metode pemanggilan hujan ini. Meskipun terkadang berlawanan dengan gaya hidup manusia modern, tetap saja kita harus melestarikan ritual memanggil hujan tersebut dengan cara kita masing-masing.