√ Sejarah Aksara Jawa Dalam Cerita Aji Saka (Singkat & Lengkap)

Sejarah aksara Jawa – Selain menjadi unsur penting dan wajib dari khasanah budaya, aksara jawa merupakan peninggalan dan pertanda identitas yang melambangkan kita bagian dari Masyarakat Jawa.

Namun seiring berjalannya waktu, generasi milenial saat ini mulai lupa dan tidak mengenal aksara Jawa lagi.

Kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa disini. Sebaliknya, kita akan memperbaiki hal ini bersama-sama. Untuk itu, beberapa hari ke depan tim Padukata akan mencoba menghadirkan apa, siapa, dan seperti apa aksara Jawa.

Nah, spesial hari ini, kita hanya akan mempelajari sejarah aksara Jawa dalam cerita legenda Aji Saka dan Prabu Dewata Cengkar.

Seperti apa kisahnya? simak artikel berikut sampai selesai ^^

Perbedaan Konsepsi Sejarah Aksara Jawa

Secara umum, ada dua sudut pandang tentang kelahiran atau munculnya aksara Jawa Hanacaraka. Masing masing sudut pandang memiliki dasar yang berbeda.

Kedua sudut pandang tersebut adalah:

  1. Sudut pandang ilmiah: sudut pandang yang berdasar pemikiran ilmiah serta berdasar peninggalan terkait aksara Jawa yang ada.
  2. Sudut pandang tradisional: dasar sudut pandang ini adalah cerita dari mulut mulut yang kemudian berubah menjadi legenda masyarakat. Sudut pandang tradisional menempatkan legenda Aji Saka sebagai asal mula lahirnya aksara Jawa.

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang sudut pandang tradisional tentang cerita Aji Saka. Sejarah aksara Jawa secara ilmiah akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Catatan Tentang Cerita Aji Saka

Legenda tentang Aji Saka yang berkaitan dengan sejarah aksara Jawa yang pada awalnya diceritakan dari mulut ke mulut kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk cerita.

Cerita Aji Saka ini ada yang masih berbentuk manuskrip ada pula yang sudah dalam bentuk cetakan.

Cerita yang masih berbentuk manuskrip terdapat pada:

  1. Serat Momana,
  2. Serat Aji Saka,
  3. Babad Aji Saka dan
  4. Tahun Saka lan Aksara Jawa.

Sedangkan Cerita yang sudah dicetak terdapat pada Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat Djawi ingkang Tanpa Sekar (Kats 1939) Lajang Hanatjaraka (Dharmabrata 1949 dan Manikmaya (Panambangan 1981).

Kedua macam catatan ini sekaligus menjadi bukti tertulis adanya legenda Aji Saka.

Cerita Aji Saka dan Aksara Jawa

Ada berbagai versi cerita Aji Saka. Berikut ini adalah versi cerita campuran sehingga akan menambah pengetahuan kita.

Asal Cerita Aji Saka

Cerita Aji saka merupakan kisah yang berasal dari Jawa Tengah.

Cerita Aji Saka asale saka Jawa Tengah.

Sedangkan, dalam kisahnya, Aji Saka merupakan pemuda sakti yang berasal dari Bumi Majeti. Ada yang mengatakan Majeti adalah negeri Mitos, namun jika kita cari di mesin pencari, didapatkan bahwa Majeti adalah sebuah daerah di India.

Ada pula yang mengatakan bahwa Aji Saka adalah pemuda yang berasal dari Jambudwipa (India) dari suku Shaka (Scythia), karena itulah ia bernama Aji Saka (Raja Shaka). (Wikipedia)

Negeri Medang Kamulan

Dalam kisahnya, segera Setelah Pulau Jawa diciptakan pulau ini -pun dapat dihuni.

Namun, sayangnya bangsa yang pertama menghuni pulau ini adalah bangsa raksasa atau denawa. Para Raksasa ini memiliki tabiat buruk. Mereka biadab, suka menindas dan yang paling menakutkan, mereka bahkan memangsa manusia.

Prabu Dewata Cengkar

Para raksasa ini lalu mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Medang Kamulan. Raja yang dipilih adalah seorang bernama Prabu Dewata Cengkar.

Raja Medang Kamulan bernama Prabu Dewata Cengkar.

Versi lain mengatakan bahwa sebenarnya Raja Dewata Cengkar adalah raja yang sangat adil dan bijaksana sehingga membuat negeri Medang Kamulan sangat makmur.

Namun, pada suatu hari seorang juru masak tanpa sengaja mengiris jarinya dan ternyata potongan jari tersebut jatuh kedalam masakan untuk Prabu Dewata Cengkar.

Bukannya marah, Prabu Dewata Cengkar, malah penasaran mengapa masakan hari itu sangat enak dan meminta juru masak untuk menambah sedikit daging manusia dalam masakan selanjutnya.

Karena telah ketagihan, maka lama kelamaan prabu Dewata Cengkar semakin suka memakan daging manusia. Dan karena itu pula, sifatnya berubah menjadi bengis dan kejam. Bukan hanya itu tubuhnya berubah membesar menjadi seorang raksasa yang mempunyai taring.

Rakyat Medang Kamulan Melarikan Diri

Karena hal ini, negeri yang sebelumnya aman makmur berubah menjadi mencekam dan menakutkan.

Rakyat harus menyerahkan upeti berupa tubuh manusia. Telah banyak korban berguguran karena Raja Bengis ini.

Para patih juga sangat ketakutan jika mereka tidak dapat memenuhi keinginan raja karena mereka akan menjadi korban berikutnya.

Salah satu patih tertinggi bernama Jugul Muda kerepotan memenuhi keinginan raja Dewata Cengkar karena Rakyat Medang Kamulan banyak yang melarikan diri dan bersembunyi di hutan hutan.

Itulah gambaran keadaan di negeri Medang Kamulan dengan Raja Dewata Cengkar.

Semakin hari berita tentang negeri ini semakin menyebar ke seluruh pelosok dunia. Salah satunya di tempat Aji Saka tinggal.

Aji Saka Meninggalkan Sembada

Mendengar hal ini. sebagai seorang pemuda pemberani yang baik, maka Aji Saka berencana untuk menghentikan perbuatan Prabu Dewata Cengkar.

Sebelum berangkat, Aji Saka memiliki dua abdi setia yang bernama Dora dan Sembada.

Dora akan diajak berangkat, sedangkan Sembada atau Sembodo ditinggal untuk menjaga Pusaka milik aji Saka.

Aji Saka mengatakan bahwa pusaka tersebut sangatlah sakti, sehingga Sembodo harus menjaga pusaka itu baik-baik dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambil kecuali Aji Saka sendiri.

Setelah berkata demikian Aji Saka dan Abid Dora berangkat.

Aji Saka Menemui Prabu Dewata Cengkar

Setelah menempuh perjalanan yang jauh, maka Aji Saka sampai di Pulau Jawa. Ia pun langsung menuju negeri Medang Kamulan.

Sampai disana bertemulah ia dengan Patih Jugul Muda. Patih tersebut menceritakan tentang keadaan negeri dengan rinci. Sang Patih juga menyarankan Aji Saka untuk segera meninggalkan negeri tersebut karena takut jika terlihat oleh Dewata Cengkar. Patih Jugul Muda merasa kasihan dengan Aji Saka karena ia masih muda, berpakaian bersih dan datang dari negeri jauh.

Namun, hal itu ditolak oleh Aji Saka dan mengatakan bahwa dia memang datang untuk bertemu sang Prabu.

Karena terus didesak, akhirnya patih Jugul Muda mengantar Aji Saka ke istana Dewata Cengkar.

Aji Saka Menawarkan Diri untuk Dimangsa

Sampai disana, Aji Saka melihat hal yang mengerikan, ada banyak tulang belulang dan tercium bau yang sangat busuk.

Aji Saka lalu memperkenalkan diri kepada Aji Saka dan menawarkan diri untuk menjadi mangsa sang Prabu hari itu.

Sang Prabu tertawa terbahak-bahak namun sedikit merasa heran juga. bagaimana mungkin seorang pemuda dengan bodohnya malah menantang maut dan mau menjadi mangsanya.

Aji Saka Memberi Satu Syarat

Belum hilang rasa penasaran sang Prabu. Aji Saka lalu mengajukan sebuah syarat yang lagi lagi membuatnya tertawa.

Aji saka meminta sebuah tanah seluas ikat kepalanya.

Tanpa pikir panjang sang Prabu menyanggupinya.

Raja Dewata Cengkar Tewas di Laut Selatan

Pada hari itu juga, pengukuran tanah dimulai.

Ikat kepala Aji saka dilepas dan dihamparkan. Prabu Dewata Cengkar sendiri yang memegang ujungnya.

Namun, secara ajaib, ikatan kepala tersebut terus memanjang dan meluas sehingga membuat sang Prabu terus mundur ke arah selatan.

Ikat kepala terus memanjang sampai di pinggir laut selatan. Mengetahui hal tersebut, Aji saka yang memegang ujung satunya, mengeluarkan kekuatannya dan mengibaskan ikat kepala tersebut.

Ebookanak.com

Secara ajaib, ikat kepala yang asalnya lemas, berubah sekuat besi dan kibasannya sampai di laut selatan mendorong sang Prabu jatuh tercebur dalam ganasnya ombak laut selatan.

Sebelum benar benar tenggelam, Aji saka datang dan mengatakan:

“Seorang manusia yang suka memakan daging manusia sama dengan buaya. Buaya hanya hidup di laut. Maka, jadilah kamu buaya putih.”

Aji Saka Menjadi Raja

Setelah kejadian ajaib tersebut, Aji Saka lalu diangkat menjadi Raja dan memerintah dengan sangat bijaksana.

Medang Kamulan menjadi negeri yang sangat makmur dan rakyatnya bahagia.

Aji Saka Memerintah Dora untuk Mengambil Pusaka

Di sela sela kesibukan menjadi Raja, Raja Aji saka teringat akan pusakanya yang dijaga oleh Sembada.

Ia lalu memerintahkan Dora untuk mengambil pusaka tersebut sekaligus menjemput Sembada untuk tinggal di Medang Kamulan.

Dora dan Sembada Berkelahi

Berangkatlah Dora ke negeri Bumi Majeti.

Sampai disana ia menyampaikan perintah Aji Saka. Namun, Sembada menolak untuk ikut dan memberikan pusaka tersebut karena telah berjanji kepada tuannya.

Mereka berseteru dan pada akhirnya bertarung dengan hebat karena masing masing mati-matian menjaga amanat tuannya.

Dua abdi ini ternyata sama-sama kuatnya sehingga tidak ada seorang yang unggul. Keduanya lalu tewas dengan menggenggam pusaka masing masing.

Aji Saka Menciptakan Aksara Jawa

Aji Saka merasa Dora sudah terlalu lama pergi dan tidak kembali. Akhirnya ia menyusul nya.

Sampai di Bumi Majeti, maka terkejutlah Aji Saka melihat dua abdinya telah tewas dengan pusaka masing masing.

Mengertilah Aji Saka apa yang telah terjadi.

Aji Saka merasa sangat bersalah atas tewasnya dua abdi setianya itu.

Akhirnya ia memberikan kehormatan besarnya terhadap Sembada dan Dora yang begitu setia kepadanya. Keduanya rela mati demi menjaga amanat dan perintah yang mereka emban. Aji Saka lantas menuliskan huruf-huruf di atas batu yang menceritakan pertarungan tersebut. Bunyi tulisan itu adalah:

HA NA CA RA KA
DA TA SA WA LA
PA DHA JA YA NYA
MA GA BA THA NGA

Tulisan Aji Saka itu kemudian dikenal dengan nama Carakan dan menjadi asal mula Aksara Jawa.

Makna Aksara Jawa Hanacaraka

Susunan tersebut sebenarnya adalah puisi yang lama kelamaan menjadi aksara Jawa. Susunan ini juga sekaligus menjadi pangram yang sempurna dan jika diterjemahkan didapatkan arti sebagai berikut:

Hana caraka Ada dua utusan
data sawala Yang saling berselisih
padha jayanya (Mereka) sama jayanya (dalam perkelahian)
maga bathanga Inilah mayat (mereka).

Atau jika dirinci:

hana = ada
caraka = utusan (arti sesungguhnya, ‘orang kepercayaan’)
data = punya
sawala = perbedaan (perselisihan)
padha = sama
jayanya = ‘kekuatannya’ atau ‘kedigjayaannya’, ‘jaya’ dapat berarti ‘kejayaan’
maga = ‘inilah’
bathanga = mayatnya

Hikmah yang Dapat Diambil

Hikmah atau pelajaran yang dapat diambil dari sejarah aksara Jawa dalam cerita Aji saka di atas adalah bahwasanya kita harus menjaga amanat yang diberikan kepada kita.

Selain itu, jika punya kedudukan janganlah bersikap sewenang-wenang.

Cerita aji saka ini juga mengajarkan kita untuk berani berkorban.

Akhirnya itulah dia kisah populer Aji saka dan sekaligus sebagai sejarah lahirnya aksara Jawa. Semoga dapat membantu kita dalam memahami aksara jawa. Terimakasih.

Leave a Comment