Categories
Serba serbi

√49+ Jenis Budaya dari Jawa Tengah yang Masih Dikenal Saat Ini

Jenis Budaya dari Jawa Tengah yang Masih Dikenal Saat Ini

Jenis Budaya dari Jawa Tengah yang Masih Dikenal Saat Ini

Budaya dari Jawa Tengah menjadi yang paling dikenal sebagian penduduk di Indonesia. Memang benar apabila setiap daerah tertentu di negara Indonesia memiliki tradisi dan kesenian masing-masing, khususnya seperti Jawa Tengah.

Pulau Jawa beserta masyarakat di dalamnya memiliki sejarah panjang dalam melestarikan kebudayaan dari nenek moyang. Kemajuan era teknologi tidak menyurutkan semangat masyarakat dalam mendalami setiap budaya yang ada.

Mengingat budaya turun temurun sudah seharusnya untuk dilestarikan supaya tidak hilang. Setiap kebudayaan di seluruh penjuru daerah pasti memiliki keunikan sendiri, yang berarti tidak pernah sama dengan budaya wilayah lain.

Sudah menjadi rahasia umum apabila budaya dari Jawa Tengah menjadi kebudayaan terpopuler dan ramai peminat untuk mempelajarinya. Sebab untuk melestarikan sebuah budaya butuh sebuah kekompakan agar diteruskan ke anak cucu.

Kebudayaan awalnya tercipta dari kebiasaan kehidupan nenek moyang zaman dahulu yang kemudian menjadi adat. Tentunya ada budaya biasa dan juga berkaitan dengan keagamaan, masyarakat juga disarankan mempelajari terus menerus.

Dengan melestarikan setiap kebudayaan, penerus bangsa dapat merasakan setiap warisan nenek moyang secara baik. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus harus tetap memegang erat warisan dari nenek moyang terdahulu.

Sebagai penduduk Indonesia, Anda harus tahu jenis budaya yang asli dari wilayah Jawa Tengah. Untuk mengetahui jenis-jenis budaya asal Jawa Tengah saat ini, Anda bisa mengikuti penjelasan berikut hingga selesai.

Budaya dari Jawa Tengah Terkenal, Sadranan dan Syawalan

Dimulai dari wilayah Jawa Tengah, tentu saja ada banyak budaya yang harus diketahui agar Anda bisa ikut melestarikan. Umumnya kebudayaan asal Jawa Tengah masih dikenal masyarakat luas sampai sekarang.

Urutan pertama, kebudayaan cukup terkenal asal Jawa Tengah ada tradisi Sadranan. Sebagian besar masyarakat Jawa sampai sekarang masih merayakan tradisi tersebut atau lebih dikenal yaitu budaya Nyadran.

Nyadran merupakan budaya dari Jawa Tengah yang dilakukan dengan menggelar doa untuk leluhur atau keluarga yang telah meninggal. Hal tersebut dilakukan bertujuan supaya dosa-dosa dapat diampuni dengan doa di makam.

Dalam rangka Sadranan, masyarakat menjalani budaya ini setiap sebelum bulan Ramadhan akan datang. Tepatnya sebelum puasa datang, masyarakat Muslim asal Jawa Tengah ramai-ramai mendatangi makam keluarga atau para leluhur pendahulu.

Masih budaya dari Jateng terdapat tradisi Syawalan yang dilakukan maksimal 7 hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Syawalan biasa dilakukan dengan ciri membuat ketupat untuk disajikan kepada keluarga atau kerabat.

Budaya dari Jawa Tengah Syawalan masih dilestarikan sampai saat ini, sehingga tidak ada orang yang melupakannya. Karena kaum Muslim di Jawa Tengah selalu memperingati Syawalan setiap tahun sekali.

Jika Anda sebelumnya bingung kenapa lebaran identik dengan menu makanan ketupat, tradisi Syawalan adalah jawabannya. Jadi tidak perlu khawatir bagi masyarakat daerah lain juga bisa mengikuti kebudayaan ini lho.

Budaya Unik Jawa Tengah dengan Istilah Wetonan

Sebagai orang asli Jawa, Anda harus tahu jenis kebudayaan selanjutnya yang akan kami jelaskan lebih lengkap. DI tanah Jawa Tengah, pelestarian budaya Wetonan sampai sekarang masih dikenal dan dilakukan masyarakat.

Seperti dengan bahasa Jawa, arti Wetonan adalah bayi yang baru saja lahir untuk dirayakan sekaligus diberikan doa. Tujuan tradisi Wetonan agar bayi terhindar dari berbagai bahaya dan mampu meraih rezeki.

Bukan hanya itu, Wetonan sebagai budaya dari Jawa Tengah bertujuan agar bayi memiliki keberuntungan lebih selama menjalani hidupnya. Penyambutan bayi yang baru saja lahir bisa dilakukan dengan sederhana atau meriah.

Dalam menjalani kebudayaan Wetonan, biasanya seseorang membuat makanan untuk dibagikan ke tetangga sekitar rumah. Perayaan bayi lahir di dunia dengan segenap doa dan harapan dipastikan bisa membuatnya hidup tanpa bahaya.

Jenis kebudayaan lain yang asli dari Jawa Tengah tepatnya di kota Wonosobo, ada istilah upacara Ruwatan. Kegiatan di upacara Ruwatan dilakukan dengan tujuan agar anak-anak berambut gimbal terhindar dari keburukan.

Karena dalam budaya dari Jawa Tengah, seorang anak yang punya rambut gimbal terlihat seperti buto ijo. Karena watak dan sikap buto ijo buruk, maka upacara Ruwatan dilakukan supaya terhindar darinya.

Pelestarian upacara Ruwatan hanya dilakukan satu kali dalam setahun dan di tempat yang sama yaitu daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Oleh karena itu upacara Ruwatan masuk sebagai budaya terunik asal Jateng.

Budaya dari Jawa Tengah, Upacara Larung Saji

Masih ada jenis budaya lain seperti halnya upacara Larung Saji yang terkenal di Jawa Tengah. Dalam upacara Larung Saji dilakukan dengan melepaskan berbagai jenis makanan hasil panen beserta hewan sembelihan.

Dengan dilenyapkan bahan-bahan tersebut ke laut, tentu saja sebagai gambaran bersyukur atas pemberian dari Tuhan. Setelah upacara Larung Saji dilakukan, harapannya agar hasil penangkapan dari laut kepada nelayan semakin tinggi.

Alhasil budaya dari Jawa Tengah ini bisa membuat para nelayan lebih bersyukur disaat menangkap hewan asal laut. Tradisi Larung Saji masih dilakukan sampai sekarang oleh sebagian besar nelayan asal Jateng.

Dalam melakukan Larung Saji, para nelayan biasanya berkumpul di lautan untuk dilaksanakan bersama-sama. Terkenalnya upacara Larung Saji kerap dilakukan baik dari laut Jawa Tengah bagian selatan atau utara.

Selanjutnya, yang cukup unik selanjutnya adalah tradisi Mitoni atau biasa dikenal upacara Tingkeben. Hal ini dilakukan masyarakat asli Jawa Tengah untuk memperingati usia kandungan 7 bulan.

Karena waktu 7 bulan usia kandungan, bayi sudah mempunyai roh yang bisa didoakan oleh keluarga dan kerabat terdekat. Tentunya tujuan dari Mitoni agar bayi dapat lahir dengan sehat tanpa masalah.

Mitoni juga digelar secara unik yaitu dengan memandikan seorang perempuan hamil berusia 7 bulan oleh 7 orang tua. Setelah dimandikan, ada doa-doa khusus diberikan kepada bayi beserta perempuan selama mengandung.

Tradisi Mistis Brobosan di Bawah Jenazah

Tradisi selanjutnya asal Jawa Tengah adalah brobosan di bawah jenazah yang diangkat menggunakan peti. Brobosan dulu dikenal luas oleh masyarakat, namun lambat laun kebudayaan ini mulai dilupakan.

Budaya dari Jawa Tengah jenis Brobosan dilakukan dengan menerobos jalan di bawah jenazah yang dibawa orang pakai peti. Biasanya seseorang yang menerobos dari kalangan anak, cucu, keluarga, dan saudara terdekat.

Adat Brobosan di Jawa Tengah dilakukan dengan 3 kali melewati bawah kolong jenazah. Cukup mistis bukan? Tetapi keunikan budaya ini tidak bisa Anda temukan di wilayah lain lho.

Kebudayaan tidak kalah populer asli Jawa Tengah selanjutnya adalah peringatan Malam Satu Suro. Tradisi ini selalu dilakukan di malam hari oleh seseorang yang tinggal di keraton Solo ataupun Yogyakarta.

Dalam memperingati Malam Satu Suro sebagai budaya dari Jawa Tengah dikenal dengan adanya kerbau yang dikeluarkan dari keraton. Kerbau digiring untuk mengelilingi sekitar keraton untuk kembali dimasukkan ke kandang.

Konon ketika kerbau milik keraton Yogyakarta atau Solo mengeluarkan kotoran bisa diambil untuk dijadikan keberuntungan. Namun mitos tersebut hanya dipercayai oleh sebagian orang Jawa yang mengikuti para nenek moyang.

Melihat banyaknya adat istiadat asli Jawa Tengah, Anda harus meneruskan dan melestarikannya. Jangan sampai dengan dikenalnya budaya dari Jawa Tengah tersebut justru dilupakan, karena memiliki arti dan maksud positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *